Keterkaitan Pembelajaran Terpadu terhadap Apresiasi Sastra Anak

Ditulis Oleh:
Tita Juwita, Oki Diana Choerunnisa, Seli Fitriani, Linda Sukmanuari B, N Evi Febrianti, Nunik D, Neni Nadiroti M, Risma
Program Studi PGSD IPI Garut

PORTALBELANEGARA.COM || Artikel ini merupakan penelitian kualitatif studi dokumen/teks. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keterkaitan pembelajaran terpadu terhadap apresiasi sastra anak di sekolah dasar. Berdasarkan dari segi sastra anak pada buku ajar kelas 1, materi pelajaran telah sesuai dengan karakteristik sastra anak dilihat dari segi kebahasaan dan segi kesastraan serta ciri-ciri sastra anak yaitu mengandung tema yang mendidik, alur lurus, dan tidak berbelit-belit. Pembelajaran apresiasi sastra dilakukan dengan pendekatan pembelajaran terpadu yang melibatkan siswa secara aktif dalam beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.

Pendahuluan:
Di dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar di dalamnya terdapat juga pembelajaran sastra. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta untuk menumbuhkan kemampuan apresiasi terhadap hasil karya sastra. Konsep dasar pembelajaran sastra pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 secara substansial menunjukkan posisi pembelajaran sastra dideskripsikan secara jelas dan operasional. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri (SKL Kurikulum 2013). Sastra anak-anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman ruhani bagi kalangan anak-anak.

Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni: (1) apresiasi sastra, dan (2) pembelajaran terpadu. Kedua, Apresiasi diserap dari bahasa Inggris apreciation yang berarti pertimbangan, penilaian, pemahaman dan pengenalan yang tepat. Apresiasi menurut Gove (dalam Haryati, 2013:1) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (dalam Aminudin 2002:35) berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses apresiasi melibatkan tiga unsur inti yakni aspek kognitif, aspek emotif, dan evaluatif.
Ketiga, Apresiasi diserap dari bahasa Inggris apreciation yang berarti pertimbangan, penilaian, pemahaman dan pengenalan yang tepat. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkap pengarang.

Apresiasi menurut Gove (dalam Haryati, 2013:1) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (dalam Aminudin 2002:35) berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses apresiasi melibatkan tiga unsur inti yakni aspek kognitif, aspek emotif,
dan evaluatif.

Ketiga, Apresiasi diserap dari bahasa Inggris apreciation yang berarti pertimbangan, penilaian, pemahaman dan pengenalan yang tepat. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkap
pengarang.

Apresiasi menurut Gove (dalam Haryati, 2013:1) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (dalam Aminudin 2002:35) berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses apresiasi melibatkan tiga unsur inti yakni aspek kognitif, aspek emotif,
dan evaluatif.

Sastra anak adalah sastra yang sengaja memang ditujukan untuk anak-anak. Sastra anak berisi cerita anak. Isi cerita yang dimaksud adalah cerita yang menggambarkan pengalaman, pemahaman dan perasaan anak.

Pembahasan:
1. Sastra Anak
Kemampuan sastra anak di sekolah dasar dilakukan dalam berbagai kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Sesuai dengan pendapat Huck dkk (1987: 630-632) bahwa pembelajaran sastra di sekolah dasar harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada empat tujuan, yakni (1) pencarian kesenangan pada buku, (2) menginterpretasi bacaan sastra, (3) mengembangkan kesadaran bersastra, dan (4) mengembangkan apresiasi.

Untuk meningkatkan apresiasi sastra di sekolah dasar melalui materi pelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2013. Di dalam materi pelajaran bahasa Indonesia di kelas 1, siswa dikenalkan sastra melalui syair lagu, puisi, dan drama anak.
Berdasarkan segi kebahasaan dan segi kesastraan serta ciri-ciri sastra anak yaitu mengandung tema mendidik, alur lurus dan tidak berbelit-belit. Pembelajaran sastra di kelas 1 sekolah dasar telah memenuhi kriteria tersebut. Hal itu dapat dilihat dari semua tema yang berkaitan dengan diri sendiri. Pembelajaran berlangsung dengan mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa diberi kesempatan untuk menggemari, menikmati, mereaksi, dan menghasilkan cipta sastra sederhana melalui pembelajaran terpadu.

Menurut perkembangan anak bahwa pemahaman anak terhadap bahasa (sastra) disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Memasuki usia 4-7 tahun anak sudah dapat menangkap cerita-cerita yang dikisahkan, meskipun belum bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Fantasi mereka masih tinggi, karena itu, pengajar sastra sulit menuntut mereka menceritakan unsur cerita secara terperinci dan detail.

2. Pembelajaran Terpadu
Menurut Asep Herry Hernawan, pembelajaran terpadu adalah konsep yang merujuk pada pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa, sehingga siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman secara langsung dan dapat menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.
Hal itu sejalan dengan konsep pembelajaran yang interaktif dan konstruktif (Developmentally Appropriate Practice) karena anak membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan sosial dan fisiknya. Pendekatan pembelajaran ini memperlakukan anak sebagai individu yang utuh dan melibatkan komponen: knowledge, skills, dispositions), feelings. Pikiran, emosi, imajinasi, sifat alamiah anak bekerja bersamaan dan saling berhubungan. Selain itu pendekatan pembelajaran ini juga melibatkan semua aspek bersamaan, sehingga perkembangan intelektual, sosial, dan karakter terbentuk secara simultan. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung dengan menggabungkan dua mata pelajaran sekaligus, yaitu pelajaran bahasa Indonesia dan pelajaran seni budaya dan prakarya.

Kesimpulan
Pada prinsipnya, apresiasi sastra anak diajarkan kepada siswa sekolah dasar kelas 1 dalam bentuk syair lagu, puisi, dan drama. Tingkatan apresiasinya meliput: memahami, menikmati, dan mereakasi. Adapun tahapan menghasilkan cipta karya dalam bentuk puisi sederhana yang menggambarkan pengalaman atau kejadian dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran apresiasi sastra dilakukan dengan pendekatan pembelajaran terpadu yang melibatkan siswa secara aktif dalam beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!