Di Balik Batu dan Tanah TMMD: Sosok 78 Tahun Yang Menyalakan Semangat Desa


Garut || Pembangunan jalan dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 di Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, menyimpan kisah yang tak sekadar tentang infrastruktur. Di balik susunan batu dan tanah yang diratakan, hadir sosok sederhana yang menjadi penggerak utama semangat warga: Bapak Hudim (78). Kamis (30/4/2026)
Di usianya yang tak lagi muda, Bapak Hudim justru berdiri di garis depan. Bukan hanya sebagai Ketua RT 06 RW 01, tetapi sebagai motor penggerak gotong royong yang menghidupkan kebersamaan warga. Setiap hari, ia berkeliling kampung, mengetuk pintu-pintu rumah, mengajak warga untuk turun tangan membangun jalan yang kelak akan menjadi urat nadi aktivitas desa.
Yang membuatnya berbeda, Bapak Hudim tak sekadar memberi arahan. Ia turut memanggul batu, meratakan tanah, dan bekerja bersama warga lainnya. Kehadirannya di tengah pekerjaan bukan hanya simbol, tetapi energi nyata yang menular.
“Ini bukan soal kuat atau tidak, tapi soal mau atau tidak. Jalan ini untuk kita semua. Kalau kita tidak bergerak, siapa lagi?” ujarnya sederhana, namun penuh makna.
Peran yang dijalankannya mencerminkan kepemimpinan yang tumbuh dari akar masyarakat, dekat, nyata, dan memberi contoh langsung. Ia juga mengatur ritme kerja warga, membagi tugas, hingga memastikan semangat tetap terjaga di tengah keterbatasan.
Kehadiran Bapak Hudim menjadi pemantik antusiasme warga. Gotong royong yang semula biasa, berubah menjadi gerakan kolektif yang penuh kesadaran. Warga datang tanpa paksaan, membawa alat masing-masing, bekerja dengan rasa memiliki yang kuat terhadap pembangunan desanya.
Komandan Rayon Militer setempat pun menyampaikan apresiasi mendalam atas peran tersebut. Menurutnya, apa yang ditunjukkan Bapak Hudim adalah potret nyata kekuatan masyarakat dalam mendukung keberhasilan program TMMD.
“Beliau bukan hanya ikut bekerja, tetapi menghidupkan semangat. Ini bukti bahwa pembangunan tidak hanya soal fisik, tapi juga tentang nilai kebersamaan dan kepedulian,” ungkapnya.
Pembangunan jalan ini diharapkan mampu membuka akses yang lebih baik bagi warga, terutama dalam mendukung aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari yang selama ini terkendala, khususnya saat musim hujan.
Lebih dari itu, kisah Bapak Hudim menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar sebuah pembangunan terletak pada partisipasi masyarakatnya. Di usia senja, ia justru menyalakan api semangat yang menyatukan generasi, membuktikan bahwa pengabdian tidak pernah mengenal batas waktu. (CG/Pendim 0611)

