Aksi Kolaborasi Hijau Ke-80 Setiap Pohon Yang Dirawat Adalah Harapan Yang di Pertahankan


Garut || Di tengah hamparan lereng Blok Gunung Congkrang, Desa Mekarjaya, Cikajang, Garut, semangat menjaga kehidupan kembali diwujudkan oleh Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-80. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu pagi tersebut difokuskan pada pemeliharaan tanaman, pembersihan gulma, serta labelisasi lanjutan guna memudahkan proses inventarisasi dan identifikasi pohon yang telah ditanam dalam program penghijauan reguler. Sabtu (13/6/2026)
Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, Sekretaris, Cepi Gantina, melibatkan sejumlah pengurus, relawan, serta generasi muda yang selama ini aktif dalam berbagai aksi pelestarian lingkungan.
Berbeda dengan kegiatan penanaman yang sering mendapat sorotan publik, pemeliharaan tanaman justru menjadi tahapan yang paling menentukan keberhasilan sebuah program penghijauan. Sebab, ribuan bibit yang ditanam tidak akan memberikan manfaat apabila tidak dirawat hingga tumbuh kuat dan mampu menjalankan fungsi ekologisnya.
Di lokasi kegiatan, para peserta melakukan pembersihan gulma yang berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu, dilakukan pula pemasangan dan pembaruan label identitas pohon yang berisi data jenis tanaman, nomor pohon, hingga informasi dasar lainnya sebagai bagian dari sistem inventarisasi vegetasi yang sedang dibangun oleh Paguyuban Kolaborasi Hijau.
Menurut Wawan Kustiawan, Bendahara Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut yang juga menjabat sebagai Ketua Laskar Indonesia Kecamatan Cikajang, kegiatan pemeliharaan merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap setiap bibit yang telah ditanam.
“Banyak orang menganggap penghijauan selesai ketika bibit sudah masuk ke tanah. Padahal sesungguhnya pekerjaan besar dimulai setelah itu. Menanam adalah ikhtiar awal, sedangkan memelihara adalah bukti kesungguhan. Pohon yang hidup dan tumbuh jauh lebih bernilai daripada ribuan bibit yang hanya menjadi angka laporan. Karena itu kami terus memastikan tanaman tetap terawat, terbebas dari gulma, dan dapat dipantau perkembangannya,” ujar Wawan.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan penghijauan harus diukur dari tingkat keberlangsungan hidup tanaman, bukan semata-mata jumlah bibit yang ditanam.
Senada dengan itu, Asep Gumilar, Kepala Divisi Media, Informasi dan Kolaborasi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut yang juga merupakan Ketua FKPM Cikajang, menegaskan bahwa kegiatan pemeliharaan memiliki makna yang jauh lebih filosofis dibandingkan sekadar membersihkan area tanam.
“Pemeliharaan adalah simbol konsistensi. Dalam kehidupan, menanam harapan memang mudah, tetapi menjaga dan merawatnya membutuhkan komitmen yang panjang. Hal yang sama berlaku dalam penghijauan. Pohon-pohon ini bukan hanya tanaman, melainkan investasi ekologis yang kelak akan menjaga tanah, menyimpan air, menghasilkan oksigen, dan menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang,” kata Asep.
Menurutnya, program labelisasi yang dilakukan merupakan langkah penting dalam membangun sistem dokumentasi dan monitoring tanaman secara berkelanjutan.
“Setiap pohon memiliki identitas. Dengan labelisasi, kami bisa mengetahui perkembangan tanaman dari waktu ke waktu, mempermudah inventarisasi, serta memastikan setiap pohon mendapatkan perhatian yang diperlukan. Ini adalah bagian dari upaya membangun penghijauan yang terukur, akuntabel, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, menegaskan bahwa gerakan penghijauan tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman semata. Menurutnya, keberhasilan gerakan lingkungan ditentukan oleh kesabaran dalam merawat dan mengawal pertumbuhan tanaman hingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan alam.
Aksi Kolaborasi Hijau ke-80 menjadi bukti bahwa penghijauan bukan sekadar kegiatan menanam pohon, melainkan proses panjang merawat kehidupan. Di lereng Gunung Congkrang, setiap gulma yang dibersihkan dan setiap label yang dipasang menjadi pengingat bahwa kelestarian alam tidak lahir dari niat sesaat, melainkan dari kepedulian yang terus dipelihara.
Sebab pohon yang tumbuh hari ini bukan hanya menghijaukan lereng gunung, tetapi juga menjaga mata air, melindungi tanah, dan menyiapkan masa depan yang lebih lestari bagi generasi yang akan datang.
Ditulis oleh :
Cepi Gantina
