Hari Donor Darah Sedunia Jadi Alarm Krisis Stok Darah di Cianjur


PORTALBELANEGARA.COM//CIANJUR – Di tengah peringatan Hari Donor Darah Sedunia, PMI Kabupaten Cianjur justru mengungkap kondisi persediaan darah yang kritis. Stok yang tersisa saat ini hanya 20 kantong dari kebutuhan ideal minimal 100 kantong untuk memenuhi kebutuhan transfusi darah di wilayah tersebut.
Kondisi tersebut disampaikan Ketua PMI Kabupaten Cianjur Ahmad Fikri saat kegiatan Hari Donor Darah Sedunia yang digelar di halaman Kantor PMI Kabupaten Cianjur, Jalan Raya Dr. Muwardi, Minggu (14/6/2026).
Menurut Ahmad, menipisnya stok darah terjadi akibat rendahnya jumlah calon pendonor yang memenuhi syarat kesehatan dibandingkan jumlah pendaftar. Selama periode 6 hingga 13 Juni 2026, PMI menggelar kegiatan donor darah di sejumlah wilayah mulai dari Cipanas-Pacet hingga Kadupandak.
“Dari total 3.013 orang yang datang mendaftar sebagai calon pendonor, hanya 163 orang yang memenuhi syarat kesehatan,” kata Ahmad.
Ia menjelaskan, kebutuhan darah di Kabupaten Cianjur mencapai sedikitnya 30 kantong per hari. Kebutuhan tersebut sebagian besar digunakan untuk pasien yang memerlukan transfusi rutin, termasuk penderita talasemia.
“Padahal kebutuhan harian yang harus kami penuhi mencapai minimal 30 kantong darah, terutama untuk penderita talasemia yang membutuhkan transfusi secara rutin setiap bulan. Jika tidak segera tercukupi, nyawa pasien terancam,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan stok, PMI Kabupaten Cianjur menjalin kerja sama dengan sejumlah PMI di luar daerah, seperti Bogor dan Jakarta, guna mendatangkan pasokan darah tambahan bagi pasien yang membutuhkan.
Sementara itu, Bupati Cianjur dr. Muhamad Wahyu Perdian yang membuka kegiatan tersebut mengajak masyarakat untuk lebih aktif mendonorkan darah secara rutin.
“Donor darah adalah wujud nyata kepedulian dan semangat gotong royong. Setiap tetes darah yang disumbangkan berarti nyawa bagi orang lain. Kami sangat berharap generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, menjadikan kegiatan ini sebagai gaya hidup, bukan hanya saat ada imbauan darurat,” ujar Wahyu.
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Fikri juga menjelaskan mengenai biaya yang dikenakan saat darah digunakan untuk keperluan pengobatan. Menurutnya, biaya tersebut bukan untuk membeli darah, melainkan sebagai pengganti biaya pengolahan sesuai standar medis.
“Ini bukan biaya pembelian darah, melainkan biaya pengganti proses pengolahan. Darah tidak bisa langsung dipakai begitu saja. Harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium, penyaringan penyakit menular, sterilisasi, hingga penyimpanan menggunakan peralatan khusus yang harganya tidak murah,” jelasnya.
Ke depan, PMI Kabupaten Cianjur akan meningkatkan sosialisasi donor darah di lingkungan sekolah dan masyarakat guna meningkatkan jumlah pendonor aktif serta menjaga ketersediaan stok darah agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi tanpa bergantung pada pasokan dari daerah lain.
Rie’an
