Warga Mekarmulya Tak Hanya Bangun Jalan, Tapi Menjaga Agar Tak Rusak Sebelum Waktu

Garut || TMMD ke-128 Kodim 0611/Garut di Desa Mekarmulya memperlihatkan satu hal yang sering hilang dalam pembangunan: kesadaran merawat. Ketika jalan penghubung Kampung Cidahu–Cibangkerong mulai terbentuk, warga tak berhenti pada rasa puas. Mereka bergerak lagi, membangun drainase secara swadaya agar jalan yang dibangun tidak cepat rusak.
Langkah ini terlihat sederhana, tetapi justru menunjukkan kedewasaan desa. Sebab membangun jalan tanpa saluran air ibarat membangun harapan tanpa penjagaan: cepat runtuh saat musim hujan datang.
Ratusan warga kembali turun ke lapangan. Mereka menggali tanah, menyusun batu, memasang besi, dan membuat saluran air di sisi jalan. Semua dilakukan secara gotong royong, dengan material yang sebagian berasal dari sekitar desa dan tenaga murni masyarakat. Tidak menunggu proyek lanjutan, tidak menunggu anggaran tambahan, mereka bergerak karena sadar bahwa fasilitas desa adalah tanggung jawab bersama.
Di wilayah berbukit seperti Malangbong, hujan adalah ujian paling nyata bagi infrastruktur. Jalan yang bagus bisa rusak dalam satu musim jika air tidak diarahkan dengan baik. Longsor, genangan, dan erosi kerap menjadi penyebab pembangunan cepat rusak.
Masyarakat Desa Mekarmulya memahami itu. Karena itu, mereka tidak menunggu kerusakan terjadi. Mereka memilih mencegah.
Drainase yang dibangun menjadi bukti bahwa warga tidak hanya ingin menikmati hasil pembangunan, tetapi juga memastikan manfaatnya bertahan lama. Ini bukan sekadar kerja teknis, tetapi bentuk tanggung jawab sosial yang jarang terlihat: memikirkan masa depan sebelum masalah datang.
Kepala Desa Otin Mubarok mengapresiasi langkah masyarakat yang tidak hanya membantu pekerjaan inti TMMD, tetapi juga melengkapi kebutuhan yang belum terakomodasi. Menurutnya, kekuatan pembangunan desa sejati ada pada warga yang memiliki rasa memiliki.
Dan benar, inisiatif drainase ini membuktikan satu hal penting: desa yang maju bukan desa yang banyak menerima bantuan, tetapi desa yang mampu bergerak dengan kesadaran sendiri.
Di banyak tempat, masyarakat menunggu semuanya diselesaikan pemerintah. Namun di Mekarmulya, warga justru membaca kebutuhan lapangan lalu bertindak. Jalan baru harus dijaga. Air harus diarahkan. Infrastruktur harus tahan. Semua dipikirkan bersama.
Drainase yang kini mengapit jalan Cidahu–Cibangkerong mungkin tidak sebesar proyek nasional. Namun maknanya besar: masyarakat memahami bahwa pembangunan bukan selesai saat diresmikan, melainkan saat bisa dipakai bertahun-tahun.
Warga Mekarmulya memberi pelajaran penting: desa akan maju ketika rakyatnya tidak sekadar menuntut fasilitas, tetapi turut menjaga dan menyempurnakannya.
Sebab jalan bisa dibuka oleh program, tetapi masa depannya hanya bisa dijaga oleh gotong royong. Dan di Mekarmulya, air hujan pun dihadapi dengan persatuan. (CG/Pendim 0611)
