Di Usia 75 Tahun, Bapak Ade Pengrajin Gula Aren Tak Lagi Menaklukkan Jalan Rusak untuk Mencari Nafkah


Garut || TMMD ke-128 Kodim 0611/Garut di Desa Mekarmulya menghadirkan manfaat yang paling nyata justru pada mereka yang sering luput dari sorotan: para pekerja desa yang tetap bertahan menghidupi tradisi dan keluarga, meski usia telah menua.
Salah satunya adalah Bapak Ade, seorang pengrajin gula aren berusia 75 tahun. Setiap hari, ia masih berjalan menuju pohon-pohon aren di lereng kebun untuk menyadap nira, pekerjaan yang menuntut tenaga, keseimbangan, dan ketekunan. Selama bertahun-tahun, medan yang harus ia tempuh bukan hanya menanjak, tetapi juga licin, sempit, dan berbahaya, terutama saat membawa peralatan atau hasil olahan.
Kini, jalan baru hasil program TMMD mengubah itu. Yang dulu berupa jalur tanah berlumpur dan semak belukar, kini menjadi akses yang lebih lebar, padat, dan aman. Bagi sebagian orang, itu hanya pembangunan jalan. Bagi Bapak Ade, itu berarti tenaga yang tersisa bisa dipakai untuk bekerja, bukan habis di perjalanan.
Sering kali pembangunan dipuji dari panjang jalan yang selesai, jumlah material yang digunakan, atau anggaran yang terserap. Tetapi ukuran sesungguhnya jauh lebih sederhana: apakah jalan itu meringankan hidup warga?
Jawabannya terlihat pada senyum Bapak Ade. Di usia yang tak lagi muda, ia tak perlu lagi berjibaku menembus jalan licin hanya untuk mencari nafkah dari tetes nira. Hasil gula arennya lebih mudah dibawa pulang. Perjalanannya lebih aman. Aktivitas yang selama ini berat, kini terasa lebih manusiawi.
Itulah fungsi pembangunan yang sesungguhnya, bukan sekadar membangun beton, tetapi mengurangi beban hidup rakyat.
Profesi seperti pengrajin gula aren kerap dianggap pekerjaan lama yang perlahan hilang. Padahal di banyak desa, gula aren bukan sekadar produk; ia warisan keterampilan, sumber ekonomi keluarga, dan identitas lokal.
Ketika akses buruk, yang terancam bukan hanya penghasilan, tetapi juga keberlanjutan profesi tradisional itu sendiri. Anak-anak muda enggan meneruskan. Orang tua kesulitan bertahan. Sedikit demi sedikit, pengetahuan lokal pun hilang.
Dengan terbukanya jalan di Kampung Cibangkerong, manfaatnya bukan hanya bagi kendaraan. Jalan ini ikut menjaga agar pekerjaan seperti milik Bapak Ade tetap hidup, agar hasil bumi tetap sampai ke rumah, dan agar tradisi desa tidak putus di generasi terakhir.
TMMD kali ini bukan hanya membangun jalan. Ia membuka harapan bagi warga yang selama ini bekerja dalam sunyi. Dari sudut kebun aren, kisah Bapak Ade mengingatkan bahwa pembangunan yang paling mulia adalah yang bisa dirasakan oleh orang paling sederhana.
Saat seorang kakek 75 tahun berkata pekerjaannya kini lebih ringan, itu lebih bernilai daripada seribu laporan proyek.
Karena jalan yang baik bukan hanya menghubungkan kampung, tetapi menghubungkan perjuangan warga kecil dengan masa depan yang lebih layak. (CG/Pendim 0611)
