Masuki Abad Kedua, NU Dinilai Perlu Regenerasi Kepemimpinan yang Adaptif

PORTALBELANEGARA.COM//CIANJUR — Memasuki abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), regenerasi kepemimpinan dinilai menjadi salah satu agenda strategis untuk menjawab berbagai tantangan organisasi di tengah perubahan global. Selain tetap berpijak pada tradisi pesantren, kepemimpinan NU dinilai perlu diperkuat dengan profesionalisme organisasi serta kemandirian ekonomi agar mampu menghadapi dinamika zaman.
Pandangan tersebut disampaikan Intelektual Muda NU sekaligus Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi. Menurutnya, perubahan geopolitik, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi digital hingga tantangan sosial menuntut NU memiliki model kepemimpinan yang adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang diwariskan para ulama, Selasa 7 Juli 2026.
Ia mengatakan regenerasi kepemimpinan tidak cukup hanya melalui pergantian figur, tetapi juga harus menghadirkan transformasi kualitas kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan tradisi pesantren dengan tata kelola organisasi yang profesional.
“Tradisi pesantren merupakan fondasi utama NU. Namun, tantangan masa kini juga membutuhkan kemampuan manajerial, tata kelola organisasi yang baik, penguasaan teknologi, serta kemampuan membangun jejaring dan mengelola sumber daya secara akuntabel,” ujarnya.
Menurut Achmad, profesionalisme organisasi menjadi kebutuhan agar NU mampu memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada masyarakat. Ia menilai keberhasilan organisasi saat ini tidak hanya diukur dari besarnya jumlah anggota, tetapi juga dari kualitas tata kelola dan kebermanfaatan yang dihasilkan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan kemandirian ekonomi organisasi. Menurutnya, fondasi ekonomi yang kuat akan mendukung independensi NU dalam menjalankan fungsi dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat tanpa bergantung pada kepentingan jangka pendek.
Dalam pandangannya, Bendahara Umum PBNU, Gus Gudfan Arif Ghofur, merupakan salah satu figur yang dinilai mencerminkan kebutuhan kepemimpinan NU pada era transformasi. Achmad menyebut Gus Gudfan dikenal mendorong penguatan tata kelola organisasi dan kemandirian ekonomi di lingkungan PBNU.
Ia juga menilai latar belakang pesantren yang dimiliki Gus Gudfan menjadi modal penting dalam menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keislaman dengan pengelolaan organisasi modern.
Meski demikian, Achmad menegaskan masa depan NU tidak ditentukan oleh satu figur. Menurutnya, perjalanan organisasi tetap dibangun melalui kerja kolektif para ulama, kiai, santri, dan seluruh warga Nahdliyin.
“Yang dibutuhkan NU pada abad kedua adalah kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus membawa organisasi semakin profesional, mandiri secara ekonomi, dan mampu menjawab kebutuhan umat,” pungkasnya.
Rie’an
