Bulog Cianjur Perkuat Cadangan Beras Antisipasi Dampak El Nino

PORTALBELANEGARA.COM//CIANJUR – Ancaman musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino mulai diantisipasi pemerintah. Untuk memastikan pasokan beras tetap aman dan harga pangan tidak bergejolak, Perum Bulog Kantor Cabang Cianjur memperkuat cadangan beras sekaligus menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menjaga ketahanan pangan di wilayah Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Sukabumi.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, mengatakan terdapat tiga strategi utama yang disiapkan, yakni memperkuat stok beras, mengoptimalkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah hingga saat ini kami masih terus menyerap gabah petani. Secara target, penyerapan sudah mencapai 130 persen dari target yang ditetapkan. Namun penyerapan tetap dilakukan untuk memperkuat stok menghadapi kemungkinan kemarau panjang,” katanya, Senin (6/7).
Menurut Azwar, stok beras yang tersimpan di gudang Bulog saat ini telah mencapai lebih dari 30 ribu ton atau cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama sekitar empat bulan ke depan.
“Kalau nanti terjadi kekeringan sehingga panen berkurang atau gagal panen, kami sudah memiliki cadangan yang cukup. Masyarakat Cianjur dan Sukabumi tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras,” ujarnya.
Selain memperkuat stok, Bulog juga akan mengoptimalkan penyaluran beras SPHP sebagai upaya menjaga stabilitas harga di pasaran. Beras SPHP dijual dengan harga di bawah harga pasar sehingga diharapkan mampu menahan laju kenaikan harga selama musim kemarau.
“SPHP menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga harga tetap stabil. Kualitas beras yang kami salurkan juga sangat baik karena berasal dari hasil panen petani di Cianjur dan Sukabumi,” katanya.
Strategi berikutnya yakni melanjutkan program bantuan pangan nasional bagi keluarga penerima manfaat (KPM). Berdasarkan hasil rapat koordinasi pemerintah pusat, bantuan pangan akan kembali disalurkan selama tiga bulan pada tahun 2026.
Di wilayah kerja Bulog Cianjur, program tersebut diperkirakan menyasar sekitar 400 ribu keluarga penerima manfaat di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Sukabumi. Masing-masing penerima akan memperoleh 10 kilogram beras setiap bulan.
“Dengan bantuan pangan ini masyarakat berpenghasilan rendah tidak perlu membeli beras di pasaran sehingga permintaan dapat ditekan dan harga tetap stabil,” jelasnya.
Sementara itu, Bulog tetap menerapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram sebagai harga dasar pembelian. Namun, apabila harga gabah di tingkat petani lebih tinggi, Bulog mempersilakan petani menjual hasil panennya ke pasar.
“HPP Rp6.500 merupakan harga jaminan pemerintah. Kalau di lapangan harganya mencapai Rp7.000 hingga Rp7.200 per kilogram, tentu petani lebih diuntungkan jika menjual ke pasar,” pungkasnya.
