Jalan Desa Dibangun dengan Tangan Rakyat: Gotong Royong Mekarmulya Jadi Bukti Desa Bisa Bergerak Tanpa Menunggu

Garut || Desa Mekarmulya kembali menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus menunggu alat berat dan proyek besar. Ketika kebutuhan warga mendesak, kekuatan utama justru lahir dari tangan-tangan masyarakat yang bergerak bersama.

Pada Minggu, 17 Mei 2026, ratusan warga turun langsung memperkuat jalan penghubung Kampung Cidahu–Kampung Cibangkerong. Jalan yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas warga diperbaiki secara gotong royong, menggunakan material sirtu yang diangkut dan diratakan bersama. Tak sekadar kerja bakti, kegiatan ini menjadi penegasan bahwa desa yang kuat dibangun oleh masyarakat yang mau terlibat, bukan hanya menunggu kebijakan turun dari atas.

Dipimpin Kepala Desa Otin Mubarok, suasana lapangan berubah menjadi potret persatuan. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda hingga para perempuan terlihat bersama memikul beban yang sama: memastikan jalan desa menjadi lebih aman, kokoh, dan layak dilalui.

Yang menarik, di tengah terik matahari, semangat warga tidak surut. Tidak ada sekat usia, tidak ada perbedaan peran. Semua menjadi bagian dari satu tujuan: membuka akses yang lebih baik bagi ekonomi warga, distribusi hasil pertanian, serta mempererat hubungan sosial antar kampung.

Apa yang terjadi di Desa Mekarmulya memberi pelajaran sederhana: desa sesungguhnya tidak kekurangan tenaga, tidak kekurangan kemauan, yang dibutuhkan sering kali hanya kepemimpinan yang mampu menggerakkan.

Saat Kepala Desa mengajak, masyarakat menjawab dengan tindakan. Saat jalan butuh diperkuat, warga hadir dengan tenaga. Inilah wajah asli pembangunan dari bawah: sederhana, tetapi berdampak nyata.

Menurut Kepala Desa, jalan penghubung ini memiliki arti penting bagi aktivitas sehari-hari warga. Selain memudahkan akses antar kampung, jalur ini akan mempercepat distribusi hasil bumi serta menunjang kegiatan sosial dan pelayanan publik. Ia menyebut gotong royong ini sebagai modal terbesar desa untuk tumbuh mandiri.

Pembangunan jalan sering dilihat hanya sebagai urusan fisik. Padahal di desa, jalan adalah penghubung kehidupan. Ia menghubungkan ladang dengan pasar, keluarga dengan kerabat, anak-anak dengan sekolah, dan warga dengan masa depan.

Jalan Cidahu–Cibangkerong kini bukan sekadar jalur penghubung, tetapi menjadi saksi bahwa masyarakat masih memegang warisan luhur bangsa: gotong royong.

Di tengah zaman yang semakin individual, warga Mekarmulya menunjukkan bahwa kebersamaan belum mati. Justru dari desa, nilai itu masih hidup, di cangkul, di karung sirtu, di peluh, dan di tangan-tangan yang rela bekerja untuk kepentingan bersama.

Karena membangun jalan sejatinya bukan hanya meratakan tanah, tetapi merawat persatuan agar tetap kokoh seperti jalan yang sedang mereka bangun. (CG/Pendim 0611)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!