Sambut Event Layangan Dunia, Warga Dua Desa di Cisurupan Kompak Lebarkan Jalan dan Normalisasi Lingkungan

GARUT || Semangat gotong royong kembali ditunjukkan warga Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Warga dari Desa Cisurupan dan Desa Karamatwangi kompak melaksanakan kerja bakti bersama di sepanjang Jalan Cagak menuju kawasan Carik, sebagai jalur strategis yang akan menunjang akses menuju lokasi Event Layangan Dunia yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026 di kawasan Tepas Papandayan dan meliputi wilayah tiga desa, Desa Karamatwangi, Cisurupan dan Balewangi. Minggu (3/5/2026)
Kegiatan kerja bakti ini dipusatkan mulai dari area parkiran Carik Desa Cisurupan, dengan status jalan yang merupakan akses bersama milik dua desa, yakni Desa Karamatwangi dan Desa Cisurupan. Rencana penanganan mencakup sepanjang kurang lebih 1 kilometer, meliputi pelebaran jalan, pembersihan sampah, hingga normalisasi saluran air.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Desa Karamatwangi, Rana Kurnia, dan Kepala Desa Cisurupan, Mumad Setiawan, serta diikuti dengan antusias oleh masyarakat, lembaga desa, dan tokoh masyarakat.
Rangkaian kerja bakti ini diawali pada Jumat pertama dari wilayah hulu atau bagian atas kawasan Carik, tepatnya di area kehutanan (Perhutani) yang berbatasan langsung dengan lahan Carik milik tiga desa, yakni Cisurupan, Karamatwangi, dan Balewangi. Fokus awal kegiatan adalah pembersihan area serta pembenahan jalur dan saluran air di wilayah hulu.
Hingga saat ini, kegiatan telah berjalan sebanyak empat kali. Dua kali pelaksanaan difokuskan pada pembenahan parit dan saluran air dari kawasan pertanian menuju area parkiran Carik. Sementara dua kegiatan berikutnya mulai bergerak ke jalur utama, yakni dari parkiran ke arah bawah menuju Jalan Cagak, akses utama menuju kawasan Gunung Papandayan. Progres saat ini masih dalam tahap awal, baru mencapai sekitar 10 persen.
Kepala Desa Karamatwangi, Rana Kurnia, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperbaiki akses jalan, tetapi juga sebagai langkah strategis menyambut event berskala internasional.
“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Saat ini kami juga sedang melakukan normalisasi saluran air agar aliran air tidak merusak jalan utama menuju area event Layangan Dunia nanti, yang insyaallah akan dilaksanakan di kawasan Tepas Papandayan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih kami ucapkan kepada Pemerintah Daerah Garut, Bapak Bupati, Ibu Wakil Bupati, Dinas Pariwisata, SKPD terkait, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pusat. Semoga event ini memberikan dampak positif, khususnya bagi masyarakat Karamatwangi dan Cisurupan, serta masyarakat Garut pada umumnya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cisurupan, Mumad Setiawan, menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong sebagai kekuatan utama pembangunan desa.
“Gotong royong adalah kekuatan kita. Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga mempererat kebersamaan warga. Ini yang harus terus dijaga,” katanya.
Dukungan juga datang dari tokoh pegiat pariwisata Cisurupan, Nandang Supradinta yang akrab disapa Kang Ilet. Ia menyampaikan apresiasi atas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih telah dilibatkan bersama masyarakat desa. Mewakili pegiat pariwisata dan lingkungan di Kecamatan Cisurupan, kami sangat mendukung adanya event Layangan Dunia ini. Semoga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan potensi wisata Cisurupan,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kerja bakti ini menjadi bagian penting dalam persiapan teknis menjelang event.
“Salah satu upaya yang kami lakukan adalah memecah alur air yang biasanya cukup besar mengalir ke lokasi event dan juga ke pemukiman warga. Ini menjadi langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak aliran air agar tidak merusak area kegiatan nantinya,” jelasnya.
Kerja bakti rutin setiap hari Jumat ini tidak hanya menghasilkan perubahan fisik berupa jalan yang lebih tertata, tetapi juga menjadi simbol kuat kolaborasi lintas desa dalam menyambut momentum besar.
Dari Cisurupan, semangat itu kembali ditegaskan, bahwa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi kekuatan nyata dalam menyongsong masa depan daerah. (Cepi Gantina)

