Jaga Mata Air, Rawat Hutan: Relawan Hijau Bergerak dari Gunung Batu hingga Gunung Congkrang

Garut || Paguyuban Kolaborasi Hijau kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-73 yang dilaksanakan di kawasan Blok Gunung Batu Tamansari dan Blok Gunung Congkrang. Kegiatan tersebut meliputi penanaman pohon hutan, labelisasi tanaman, hingga pemeliharaan kawasan konservasi lahan yang selama ini menjadi bagian penting dari gerakan penghijauan masyarakat. Sabtu (16/5/2026)

Kegiatan dibagi menjadi dua tim utama. Tim pertama dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau yang bergerak di kawasan Gunung Batu Tamansari untuk melaksanakan penanaman perdana pohon hutan seperti beringin, damar, manglid, dan eukaliptus rainbow. Sementara tim kedua dipimpin Kepala Divisi Konservasi dan Lingkungan, Lukman Nul Hakim, bersama anggota lainnya untuk melakukan labelisasi dan pemeliharaan tanaman di Blok Gunung Congkrang.

Penanaman di kawasan Gunung Batu berlangsung lancar dan penuh semangat gotong royong. Pohon beringin menjadi salah satu tanaman utama yang ditanam karena dinilai memiliki kemampuan kuat dalam menjaga kawasan resapan air dan memperkuat sumber mata air yang selama ini digunakan warga sekitar.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau H Jaeni dalam keterangannya menegaskan bahwa kegiatan penghijauan tidak boleh berhenti hanya pada seremoni penanaman semata.

“Menanam pohon adalah langkah awal, tetapi menjaga dan merawatnya adalah tanggung jawab yang sesungguhnya. Kami ingin hutan kembali hidup, mata air tetap mengalir, dan masyarakat merasakan manfaatnya dalam jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa penanaman pohon beringin menjadi simbol harapan untuk memperkuat ekosistem alam di kawasan Gunung Batu Tamansari.

“Beringin dikenal sebagai pohon kehidupan. Akarnya kuat, daya simpan airnya besar, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga sumber mata air. Ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi tentang menjaga masa depan lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, agenda labelisasi dan pemeliharaan di Blok Gunung Congkrang berhasil dilaksanakan dengan baik. Tim konservasi dan lingkungan berhasil memasang sekitar 250 label pohon sekaligus membersihkan gulma di sekitar tanaman agar pertumbuhannya tetap optimal.

Kepala Divisi Konservasi dan Lingkungan, Lukman Nul Hakim, mengatakan bahwa labelisasi merupakan bagian penting dalam pengawasan dan keberlanjutan konservasi.

“Labelisasi ini bukan sekadar penanda. Ini adalah bentuk tanggung jawab agar setiap pohon bisa dipantau pertumbuhannya, dirawat, dan tidak dibiarkan begitu saja setelah ditanam,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemeliharaan menjadi faktor penting dalam keberhasilan konservasi lahan.

“Banyak gerakan tanam pohon berhenti di dokumentasi. Kami tidak ingin seperti itu. Karena itu setiap pohon dibersihkan dari gulma dan terus dipantau agar benar-benar tumbuh dan memberi manfaat bagi alam,” tegas Lukman.

Aksi Kolaborasi Hijau ke-73 menjadi bukti bahwa gerakan lingkungan membutuhkan konsistensi, kerja nyata, dan kolaborasi lintas elemen masyarakat. Dari Gunung Batu hingga Gunung Congkrang, para relawan hijau terus menanam harapan agar hutan tetap lestari, mata air tetap hidup, dan alam tetap terjaga untuk generasi mendatang. (Cepi Gantina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!