Merawat Pohon, Menyelamatkan Masa Depan: Refleksi Hari Pohon Sedunia di Tengah Kerusakan Alam dan Ancaman Bencana

Hari Pohon Sedunia kembali hadir sebagai pengingat bahwa kehidupan manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari keberadaan pohon. Pohon memberi napas, menjaga keseimbangan tanah, menahan erosi, menyimpan air, hingga melindungi kita dari bencana. Namun tahun ini, peringatan 21 November 2025 terasa jauh lebih mendalam, karena kita merayakannya di tengah kerusakan alam yang sudah nyata di depan mata banjir, longsor, hingga rusaknya infrastruktur akibat hilangnya vegetasi.
Banjir yang datang tiba-tiba dan longsor yang merusak perkampungan bukan lagi isu jauh. Ia telah menjadi pengalaman getir masyarakat di banyak daerah. Ketika pohon ditebang tanpa kendali, ketika hutan dialihfungsikan tanpa perhitungan, ketika tanah dipaksa bekerja melampaui batasnya alam pun merespons dengan cara yang menyakitkan.
Akar-akar yang dulu mengikat tanah kini hilang. Tajuk-tajuk yang meneduhkan hilang digantikan bentangan lahan gundul. Sungai kehilangan penjaganya. Yang tersisa hanya tanah rapuh yang siap tergerus hujan sedikit saja.
Dan semua bencana itu sesungguhnya adalah alarm, kita telah terlalu jauh meninggalkan keharmonisan dengan alam.
Dalam Islam, menjaga bumi bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga perintah spiritual. Al-Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah fil ardh pemelihara, bukan perusak.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Kerusakan hutan, penggundulan bukit, pembakaran lahan semua itu termasuk bagian dari kerusakan yang dilarang dalam ayat ini.
Bahkan, Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa tentang pentingnya menanam pohon, bahkan ketika kondisi tidak ideal sekalipun. Nabi bersabda:
“Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah benih, maka tanamlah.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa menanam pohon adalah perbuatan mulia yang tidak lekang oleh waktu. Ia bukan sekadar aktivitas lingkungan, tetapi ibadah yang berpahala besar.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon lalu buahnya dimakan oleh manusia, hewan, atau burung, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, pohon adalah sedekah jariyah pahala yang terus mengalir selama ia memberikan manfaat.
Dengan demikian, merayakan Hari Pohon Sedunia bukan sekadar aktivitas menanam bibit. Ia adalah panggilan untuk melakukan tindakan ibadah, perjuangan kemanusiaan, dan bela lingkungan demi generasi mendatang.
Setiap pohon yang tumbuh adalah harapan bagi bumi. Setiap akar yang masuk ke tanah adalah penjaga kehidupan. Dan setiap orang yang terlibat dalam penghijauan sesungguhnya sedang menjalankan perintah agama untuk tidak membuat kerusakan.
Menanam pohon hari ini sama artinya dengan menyelamatkan tanah air kita dari ancaman bencana. Inilah bentuk bela negara yang paling sunyi namun paling nyata. Pohon menjaga air, melindungi lereng, menurunkan risiko banjir dan tanah longsor sesuatu yang langsung dirasakan masyarakat.
Ketika hutan dipulihkan, kita bukan hanya memperbaiki alam, tetapi memperbaiki kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual.
Hari Pohon Sedunia mengajak kita untuk meninggalkan pola pikir bahwa alam dapat dieksploitasi tanpa batas. Bumi telah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Kini tugas kita adalah memulihkannya.
Menanam pohon hari ini berarti menyiapkan udara bersih untuk anak cucu, sumber air untuk pertanian, ekosistem sehat untuk keanekaragaman hayati, ketahanan bencana bagi masyarakat, dan pahala jariyah yang tak terputus.
Karena sesungguhnya, satu pohon adalah satu kehidupan. Dan merawat pohon adalah bagian dari merawat iman.
Semoga setiap manusia sadar bahwa bumi adalah amanah, bukan warisan. Dan semoga setiap pohon yang kita tanam menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha mencintai alam sebagaimana alam telah mencintai kita sejak awal.
Menanam adalah ibadah. Merawat adalah cinta. Menjaga adalah masa depan.
Oleh : Cepi Gantina

