Ketua KOPRI Cianjur: Tragedi Anak di NTT Alarm Keras Ketimpangan Pendidikan

PORTALBELANEGARA – Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Kabupaten Cianjur, Tela Mutia, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya seorang anak berusia 9 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidup akibat tidak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah.
Menurut Tela, peristiwa tragis tersebut bukan sekadar kabar duka, melainkan menjadi alarm keras bagi nurani bangsa tentang masih lebarnya ketimpangan akses pendidikan di Indonesia.
“Di usia yang seharusnya dipenuhi mimpi dan harapan, seorang anak justru kehilangan masa depannya karena kemiskinan dan ketidakadilan akses pendidikan,” ujar Tela dalam keterangannya,Rabu (04/02/202).
Ia menilai tragedi ini menunjukkan bahwa hak dasar anak atas pendidikan yang layak dan manusiawi belum sepenuhnya terjamin.
Pendidikan yang kerap disebut gratis, kata dia, pada praktiknya masih menyisakan beban biaya yang tidak mampu dipikul oleh keluarga rentan.
“Ini bukan kegagalan anak atau keluarganya, melainkan kegagalan sistemik. Negara belum sepenuhnya hadir bagi rakyat kecil,” tegasnya.
Atas kejadian tersebut,
KOPRI Kabupaten Cianjur mengkritik keras pemerintah, baik pusat maupun daerah, agar tidak menutup mata terhadap realitas pahit yang masih dialami masyarakat miskin.
“Program pendidikan tidak boleh berhenti pada slogan. Negara wajib memastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan harapan, bahkan nyawa, hanya karena keterbatasan ekonomi,” tambah Tela.
KOPRI Cianjur berharap tragedi ini menjadi titik balik bagi perbaikan kebijakan pendidikan nasional, khususnya dalam memperkuat perlindungan anak serta jaring pengaman sosial bagi keluarga miskin dan rentan.
Selain itu, KOPRI juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
“Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan semoga kepergiannya menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak hidup, belajar, dan bermimpi tanpa dibatasi oleh kemiskinan,” pungkasnya.

