Di Balik Lonjakan Wisatawan Garut, Masalah Sampah yang Tak Boleh Diabaikan

Libur Natal dan Tahun Baru selalu menjadi momentum yang dinanti, baik oleh masyarakat maupun daerah tujuan wisata. Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali mencatatkan kabar menggembirakan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan pada libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari pemberitaan antara.com yang tayang pada 4 Januari 2026, jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 124.250 orang dari 26 objek wisata yang dimonitoring, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka sekitar 102 ribu orang.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, Budi Gan Gan, menyebutkan lonjakan tersebut terjadi sejak Kamis, 25 Desember 2025 hingga Jumat, 2 Januari 2026. Wisatawan datang dari berbagai daerah, terutama Jakarta dan Bandung, dengan tujuan favorit seperti kawasan pemandian air panas Cipanas Garut di Kecamatan Tarogong Kaler, Darajat di Kecamatan Pasirwangi, Taman Wisata Alam Gunung Papandayan, wisata pantai selatan Garut, hingga kawasan danau.
Secara ekonomi, peningkatan kunjungan ini tentu membawa dampak positif. Perputaran uang meningkat, pelaku usaha lokal bergerak, dan sektor pariwisata kembali menunjukkan denyut kehidupannya. Namun di balik euforia tersebut, ada persoalan klasik yang terus berulang dan belum sepenuhnya tertangani secara tuntas yaitu sampah.
Lonjakan wisatawan hampir selalu berbanding lurus dengan lonjakan volume sampah. Plastik kemasan makanan dan minuman, botol sekali pakai, sisa konsumsi, hingga sampah organik menjadi pemandangan yang sulit dihindari di banyak kawasan wisata. Tak terbayangkan berapa kenaikan volume sampah yang muncul di setiap destinasi wisata selama libur panjang ini.
Persoalan menjadi lebih pelik ketika tidak semua kecamatan di Kabupaten Garut memiliki armada pengangkut sampah yang memadai. Mungkin kondisi masih relatif terkendali di wilayah yang telah memiliki fasilitas lengkap. Namun bagaimana dengan kecamatan atau desa wisata yang belum memiliki sarana tersebut? Ke mana sampah-sampah itu kemudian dibuang? Apakah dibiarkan menumpuk di sudut-sudut kawasan wisata, dibuang ke sungai, atau ditangani secara darurat tanpa sistem pengelolaan yang berkelanjutan?
Kalaupun seluruh sampah tersebut akhirnya ditarik ke TPA Pasir Bajing, pertanyaan lanjutan tak kalah penting untuk diajukan: berapa puluh bahkan ratus ton tambahan sampah yang harus ditanggung hanya dalam hitungan hari libur? Beban ini bukan sekadar persoalan teknis pengangkutan, tetapi juga menyangkut daya tampung TPA, umur pakai, biaya operasional, dan risiko pencemaran lingkungan di masa mendatang.
Di sinilah persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan hilir semata yang sepenuhnya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup. Masalah ini adalah persoalan kebijakan, perencanaan, dan tanggung jawab kolektif. Tanpa strategi pengurangan sampah dari sumbernya, tanpa regulasi tegas di kawasan wisata, serta tanpa edukasi yang konsisten kepada wisatawan dan pelaku usaha, lonjakan kunjungan justru berpotensi menjadi bom waktu ekologis.
Pemerintah daerah perlu mulai menempatkan isu sampah sebagai bagian integral dari kebijakan pariwisata. Setiap destinasi wisata seharusnya memiliki rencana pengelolaan sampah yang jelas, mulai dari pembatasan plastik sekali pakai, penyediaan fasilitas pilah sampah, hingga penguatan TPS3R berbasis masyarakat. Pelaku usaha wisata juga tak bisa lagi sekadar mengejar jumlah kunjungan, tetapi wajib ikut bertanggung jawab atas dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Di sisi lain, wisatawan pun memegang peran penting. Menjadi wisatawan bukan hanya soal menikmati keindahan alam, tetapi juga tentang etika dan kesadaran menjaga ruang yang dikunjungi. Membawa pulang sampah sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menghormati alam sebagai ruang hidup bersama adalah bentuk tanggung jawab sederhana namun bermakna.
Garut memiliki alam yang indah dan daya tarik wisata yang luar biasa. Namun keindahan itu hanya akan bertahan jika dibarengi dengan keseriusan mengelola dampak lingkungan. Lonjakan wisatawan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat arah pariwisata berkelanjutan, bukan sekadar mengejar angka kunjungan tahunan.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung, tetapi dari seberapa bersih, lestari, dan terjaganya alam setelah para wisatawan pulang. Jika sampah terus dibiarkan menjadi persoalan berulang, maka yang tersisa bukan kenangan indah liburan, melainkan warisan masalah bagi generasi yang akan datang.
Opini di buat oleh:
Nandang Supradinata/Ilet (Ketua Harian Paguyuban Indriya Ligina Cisurupan
Editor : Cepi Gantina

