Alam yang Bersaksi, Manusia yang Diingatkan

Alam adalah amanah. Sejak awal penciptaan, Tuhan membentangkan bumi dengan kasih, menjahit langit tanpa retak, dan mengalirkan air sebagai rahmat yang tak pernah berhenti. Setiap sudut semesta adalah tanda cinta dan pengaturan yang sempurna. Gunung yang kokoh, hutan yang rimbun, sungai yang jernih semuanya hadir sebagai penjaga keseimbangan kehidupan.

Namun, di tengah anugerah sebesar itu, manusia justru menjadi makhluk yang paling sering melukainya. Ada tangan-tangan yang mengiris hutan tanpa belas kasihan, mencemari sungai dengan sampah dan limbah, serta meracuni udara dengan keserakahan. Seakan-akan bumi bukan tempat ia sujud, seakan langit bukan tempat naiknya doa-doanya.

Padahal Allah sudah memperingatkan secara tegas dalam QS Al-A’raf ayat 56:

“…Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya…”

Dan dalam ayat lain ditegaskan dalam QS AL-Qasas Ayat 77:

“…Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan…”

Betapa dahsyat makna kalimat itu bahwa Allah tidak mencintai mereka yang merusak bumi. Sebuah murka yang halus, namun lebih tajam dari pedang mana pun, karena ia datang dari Tuhan yang kasih-Nya tak terukur. Jika cinta-Nya adalah cahaya, maka ketidaksukaan-Nya adalah kegelapan yang menyesakkan.

Wahai manusia… sadarilah bahwa alam yang kau rusak hari ini akan menjadi saksi pada hari ketika mulut tak lagi mampu berbicara. Pepohonan yang ditebang, sungai yang dicemari, tanah yang disakiti semuanya akan mengadukan perbuatanmu di hadapan Tuhan Yang Maha Mengadili. Alam bukanlah benda mati, melainkan ciptaan yang tunduk dan bertasbih, menunggu keadilan ditegakkan.

Jagalah bumi sebelum murka Allah turun, bukan dalam bentuk ayat, tetapi dalam rupa bencana, banjir yang menghanyutkan, kekeringan yang mematikan, longsor yang menghancurkan, dan rusaknya kehidupan yang pernah tenteram. Kerusakan bukan hanya merugikan lingkungan tetapi juga tanda bahwa manusia telah melupakan tugas sucinya sebagai khalifah di bumi.

Mencintai bumi adalah bagian dari mencintai Tuhan. Merawat pohon, menjaga air, melindungi udara, adalah ibadah yang sunyi namun tinggi nilainya. Sebaliknya, merusak alam adalah jalan yang mengantarkan manusia menuju murka-Nya.

Semoga hati kita kembali lembut, tangan kita kembali peduli, dan langkah kita kembali pada jalan penjagaan bumi. Karena ketika kita merawat alam, sesungguhnya kita sedang merawat amanah Tuhan. Wallahualam bishawab…

Ditulis ulang oleh : Cepi Gantina
Sumber : Pesan inspirasi K.H Cecep Jayakarama Ketua MUI Kecamatan Cisurupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!