Aksi Kolaborasi Hijau ke-49 Spesial Hari Menanam Pohon Indonesia: Menanam Cinta, Merawat Harapan di Gunung Congkrang


Garut || Dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia yang jatuh pada 28 November, Paguyuban Kolaborasi Hijau kembali menggelar gerakan penghijauan berkelanjutan melalui Aksi Kolaborasi Hijau ke-49 pada Sabtu, 29 November 2025. Meski berbeda satu hari dari peringatan nasional, Sabtu tetap menjadi pilihan konsisten karena telah menjadi agenda rutin mingguan gerakan ini sejak awal berdiri.
Kegiatan kali ini dilaksanakan di kawasan Blok Gunung Congkrang, tepatnya di lahan HGU milik PTPN I Regional 2 Kebun Cisaruni, Kampung Ciarileu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut area yang telah ditanami sejak satu tahun lalu dan saat ini memasuki tahap pemeliharaan intensif.
Dengan mengusung tema “Menanam pohon adalah implementasi paling nyata dari cinta kita kepada alam, kecil saat ditanam, besar memberi manfaat.”
Aksi ini tidak sekadar menanam bibit baru, tetapi juga melakukan penyulaman (re-planting) dan perawatan pohon yang sudah tumbuh sebelumnya.
Seluruh tim Kolaborasi Hijau hadir lengkap pada kegiatan ke-49 ini. Mereka melakukan penanaman, pemeliharaan, serta membersihkan area dari gulma agar bibit-bibit yang telah ditanam dapat tumbuh optimal.
Asep Gumilar, anggota tim Kolaborasi Hijau sekaligus Ketua FKPM Resort Cikajang, menegaskan bahwa penghijauan bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan tanggung jawab ekologis jangka panjang.
“Setahun menanam itu hebat, tapi sepuluh tahun merawat itu jauh lebih mulia. Kolaborasi Hijau hadir bukan hanya menaruh bibit di tanah, tapi memastikan pohon itu tumbuh, hidup, dan memberi manfaat bagi generasi setelah kita,” ujar Asep.
Ia menambahkan, kegiatan rutin ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dilakukan dengan konsistensi dan gotong royong.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau, H. Jaeni, mengungkapkan bahwa gerakan ini tumbuh dari kesadaran kolektif warga Cikajang dan sekitarnya dalam menjaga alam, khususnya kawasan Congkrang yang menjadi bagian penting dari ruang hidup masyarakat.
“Setiap pohon yang kita tanam hari ini adalah doa, harapan, dan warisan. Kita mungkin tidak sempat menikmati rindangnya nanti, tapi anak cucu kita akan merasakannya. Itulah esensi menanam pohon memberi tanpa harus menerima,” tuturnya.
H. Jaeni juga menekankan bahwa momentum Hari Menanam Pohon Indonesia harus menjadi pengingat bahwa bencana alam seperti banjir dan longsor bukan hanya disebabkan cuaca ekstrem, tetapi juga akibat ulah manusia yang merusak hutan.
“Kalau kita merusak alam, alam pun akan kehilangan kesabarannya. Tapi ketika kita merawatnya, alam akan menjadi sahabat terbaik kita,” tambahnya.
Gerakan Kolaborasi Hijau telah menjadi inspirasi bagi banyak komunitas lokal maupun pegiat lingkungan di wilayah lain. Tanpa dukungan anggaran pemerintah, tanpa sorotan kemewahan acara, para relawan tetap bergerak setiap pekan dengan semangat yang sama menyelamatkan bumi, mulai dari kampung sendiri.
Aksi ke-49 ini menegaskan bahwa upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan dampak besar. Pohon-pohon yang tahun lalu hanya setinggi lutut kini mulai menguat, dan tahun-tahun mendatang akan menjadi hutan kecil yang memberi oksigen, mencegah erosi, dan menjaga sumber air di kawasan Congkrang.
Aksi Kolaborasi Hijau bukan sekadar gerakan menanam pohon ini adalah gerakan moral, gerakan cinta lingkungan, dan gerakan membangun masa depan yang lebih hijau bagi Garut dan Indonesia.
Gerakan ini memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi dari aksi kecil yang dilakukan dengan ketulusan dan keberlanjutan.
Menanam pohon adalah menanam harapan dan harapan selalu tumbuh ketika dirawat bersama. (Jajang Nurjaman/CG)

