Bela Negara Tak Lagi Sekadar Slogan: Ribuan Warga Padati Breakfast Free Day” di CFD Jakarta, Gema Bela Negara dan Gerakan Dapur Indonesia Buktikan Cinta Tanah Air Lewat Aksi Nyata


Jakarta || Di tengah berbagai tantangan bangsa, mulai dari ketahanan pangan, persoalan lingkungan, hingga menurunnya kepedulian sosial di ruang publik, Gema Bela Negara (GBN) bersama Gerakan Dapur Indonesia (GDI) menghadirkan cara berbeda dalam memaknai nasionalisme. Melalui kegiatan “Breakfast Free Day” yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (7/6/2026), semangat bela negara diterjemahkan menjadi aksi nyata yang langsung dirasakan masyarakat.
Berlokasi di halaman depan Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. dan berhasil menarik sedikitnya 6.000 pengunjung, terdiri dari penggiat bela negara, komunitas masyarakat, hingga warga yang tengah berolahraga di sepanjang kawasan Sudirman-Thamrin.

Berbeda dengan kegiatan seremonial pada umumnya, acara ini menghadirkan perpaduan antara penguatan ekonomi rakyat, kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, olahraga, seni budaya, dan edukasi kebangsaan dalam satu ruang publik yang inklusif.
Sekretaris Jenderal Gema Bela Negara sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara, Heikal Safar, menegaskan bahwa konsep bela negara harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

“Bela negara hari ini tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep atau slogan. Bela negara harus hadir dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Karena itu kami mengemasnya melalui kegiatan yang menyentuh aspek ekonomi, kesehatan, lingkungan, budaya, dan kemanusiaan sekaligus,” ujar Heikal saat doorstop interview bersama awak media.
Menurutnya, kolaborasi antara GBN dan GDI menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana namun berdampak besar, seperti menyediakan sarapan gratis yang melibatkan pelaku UMKM, mendukung ketahanan pangan, hingga membangun budaya hidup sehat di tengah masyarakat.

“Ketika UMKM bergerak, ekonomi rakyat tumbuh. Ketika masyarakat sehat, bangsa menjadi kuat. Ketika lingkungan dijaga, masa depan bangsa menjadi lebih terjamin. Itulah esensi bela negara yang kami bangun hari ini,” tambahnya.
Kehadiran Menko Pangan Dr. Zulkifli Hasan menjadi simbol penting bahwa isu pangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya memperkuat ketahanan nasional.
Sementara itu, Ketua Umum Gema Bela Negara, R. Achmat Juniawan, menegaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air tidak hanya diwujudkan melalui semangat patriotisme, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan hidup.

“Tidak mungkin kita mengaku mencintai Indonesia jika membiarkan sesama kesulitan dan lingkungan terus rusak. Karena itu kegiatan hari ini juga menghadirkan donor darah, pembagian bibit pohon dan pupuk kompos, serta edukasi lingkungan sebagai bagian dari gerakan bela negara,” ujarnya.
Menurut Juniawan, tantangan bangsa saat ini bukan hanya soal ancaman fisik, tetapi juga ancaman terhadap kualitas lingkungan, ketahanan sosial, dan kesadaran kolektif masyarakat.
Pesan tersebut terlihat nyata ketika ribuan peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari senam Zumba dan Cardio Dance, atraksi bela diri Kempo, pertunjukan seni budaya Nusantara, donor darah, hingga pembagian bibit pohon secara gratis kepada masyarakat.
Yang menarik, semangat menjaga lingkungan tidak berhenti pada seremoni pembagian bibit. Di penghujung acara, peserta secara sukarela mengikuti Operasi Semut, yaitu aksi memungut sampah di area kegiatan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa karakter bela negara bukan hanya datang untuk menikmati acara, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan yang digunakan bersama. Kami datang dengan bersih dan harus pulang meninggalkan tempat yang lebih bersih,” tegas Heikal.
Aksi sederhana tersebut menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara yang baik.
Ketua Umum Gerakan Dapur Indonesia (GDI), Nofalia, menegaskan bahwa bela negara tidak selalu harus dimaknai secara kaku. Menurutnya, sinergi GDI dan Gema Bela Negara merupakan bentuk pembinaan masyarakat melalui penguatan ekonomi kerakyatan.
“Bela negara bisa diwujudkan melalui aksi nyata yang menyentuh kehidupan rakyat. Program Sarapan Pagi Gratis yang melibatkan UMKM dan pedagang kecil bukan hanya berbagi makanan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Ketika usaha kecil tumbuh dan masyarakat saling peduli, itulah wujud nyata cinta tanah air,” ujar Nofalia.
Ia berharap kolaborasi ini dapat terus mendorong semangat gotong royong, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai bela negara di era modern.
Kegiatan “Breakfast Free Day” juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh nasional, di antaranya Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Ir. Suharti, M.A., Ph.D., Sestama BGN Brigjen TNI (Purn) Sarwono, Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, serta para pembina Gema Bela Negara seperti Mayjen TNI Mirza Patria, Dr. Qudrat Nugraha, dan Dr. Wawan Purwanto.
Dengan memadukan semangat kebangsaan, pemberdayaan ekonomi rakyat, kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, serta penguatan budaya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa bela negara tidak lagi hanya berada di ruang-ruang seminar atau slogan-slogan formal.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Gema Bela Negara dan Gerakan Dapur Indonesia menunjukkan bahwa mencintai Indonesia dapat dimulai dari hal-hal sederhana: berbagi makanan, membantu sesama, menjaga lingkungan, mendukung UMKM, dan membangun kebersamaan di ruang publik.
Karena pada akhirnya, bela negara yang paling kuat adalah ketika masyarakat ikut bergerak, bukan hanya berbicara.
