Kepala CDK V Garut Apresiasi Gerakan Kolaborasi Hijau dan Jaga Leuweung di Cikajang

Garut || Semangat menjaga alam kembali bergema di kaki Gunung Papandayan. Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut bersama Tim Jaga Leuweung Kecamatan Cikajang menggelar Aksi Kolaborasi Hijau Ke-72 di kawasan Curug Awer, Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Kamis (14/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk aksi nyata pelestarian lingkungan yang diprakarsai oleh Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut bersama Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah V Garut. Sejumlah unsur hadir dalam kegiatan itu, mulai dari Kepala CDK V Garut Endik Casdika, para penyuluh kehutanan, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Tim Jaga Leuweung Cikajang, hingga tokoh masyarakat setempat.

Dalam kegiatan tersebut, peserta melakukan penanaman sebanyak 126 pohon yang terdiri dari kayu manglid, eukaliptus rainbow, pelita, serta satu pohon beringin yang ditanam di sekitar kawasan Curug Awer sebagai simbol keteduhan dan keberlangsungan kehidupan.

Kepala CDK V Garut, Endik Casdika, S.Hut., M.P., mengapresiasi gerakan penghijauan yang digagas Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut bersama masyarakat dan relawan lingkungan.

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci penting dalam menjaga kawasan hutan dan sumber mata air di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya seremoni menanam pohon, tetapi bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan lingkungan. Kami berharap gerakan kolaborasi seperti ini terus berlanjut dan mampu menggerakkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap hutan dan sumber kehidupan,” ujarnya.

Ia menilai bahwa program Jaga Leuweung dan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut memiliki kesamaan visi dalam menjaga kelestarian alam, memperkuat penghijauan, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan dan sumber air.

“Saya melihat semangat Jaga Leuweung dan Paguyuban Kolaborasi Hijau memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga alam dan membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam membangun gerakan pelestarian lingkungan berbasis kolaborasi,” tambahnya.

Ia juga melihat kawasan Curug Awer memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata alam berbasis konservasi. Menurutnya, keindahan alam Curug Awer dapat menjadi daya tarik wisata apabila dibarengi dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan penataan kawasan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Ujang Rohidin menyampaikan rasa terima kasih kepada Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Kepala CDK V Garut, serta para penyuluh kehutanan yang telah hadir dan melakukan aksi penanaman di wilayah Margamulya.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian serta kepedulian semua pihak terhadap lingkungan di wilayah kami. Semoga pohon-pohon yang ditanam hari ini menjadi manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni mengatakan bahwa gerakan penghijauan tidak cukup hanya dilakukan melalui wacana atau kampanye di media sosial, tetapi harus diwujudkan dengan aksi nyata di lapangan.

Menurutnya, semangat antara Jaga Leuweung dan Kolaborasi Hijau memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga alam, melindungi sumber air, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestarian lingkungan.

“Kami percaya bahwa menjaga leuweung berarti menjaga kehidupan. Kolaborasi ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi menanam harapan dan kesadaran bersama agar alam tetap lestari,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa ke depan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut bersama Tim Jaga Leuweung Cikajang akan menyusun jadwal rutin untuk melakukan penanaman lanjutan sekaligus pemeliharaan tanaman yang sebelumnya sudah ditanam di kawasan tersebut.

Menurutnya, keberhasilan penghijauan tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi harus dibarengi dengan perawatan dan pengawasan agar pohon dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.

“Kami ingin gerakan ini berkelanjutan. Bukan hanya menanam hari ini lalu selesai, tetapi bagaimana tanaman yang sudah ditanam bisa dirawat, dijaga, dan tumbuh menjadi hutan yang bermanfaat bagi masyarakat di masa depan,” tambahnya.

Di tengah tantangan kerusakan alam dan perubahan iklim, Aksi Kolaborasi Hijau Ke-72 menjadi pesan kuat bahwa gotong royong menjaga lingkungan masih hidup di tengah masyarakat. Dari kaki Gunung Papandayan, semangat kecil para penjaga alam terus menyuarakan harapan besar, Hutan lestari, gunung terjaga, kehidupan manusia tetap terpelihara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!