Tiga Srikandi Muda Penjaga Bumi di Lereng Gunung Congkrang, “Saat Banyak Remaja Sibuk di Dunia Maya, Mereka Memilih Menjaga Masa Depan Alam”


Garut || Di tengah terik matahari yang menyengat lereng Blok Gunung Congkrang, Kampung Ciarileu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, tiga remaja perempuan bernama Rafani, Henti, dan Sefti tampak berjalan menyusuri hamparan hijau sambil membawa papan data dan alat tulis. Mereka bukan sedang membuat konten hiburan atau sekadar berfoto di alam, melainkan terlibat langsung dalam aksi nyata menjaga bumi bersama Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut. Sabtu (9/5/2026)
Dalam Aksi Kolaborasi Hijau ke-71, ketiga remaja tersebut menjadi simbol lahirnya generasi muda yang mulai sadar bahwa masa depan lingkungan tidak bisa hanya diserahkan kepada orang tua atau aktivis senior. Mereka ikut melakukan pendataan dan labelisasi tanaman sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pengawasan pohon yang telah ditanam di kawasan tersebut.
Meski usia mereka masih muda, semangat yang ditunjukkan begitu kuat. Di bawah panas matahari pegunungan, mereka tetap tekun mencatat jenis tanaman, memasang label, hingga mempelajari manfaat ekologis dari setiap pohon yang tumbuh di lahan penghijauan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa menjaga alam bukan hanya soal menanam pohon untuk seremoni sesaat. Lebih dari itu, ada proses panjang berupa perawatan, pendataan, dan pengawasan agar pohon benar-benar tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat di masa depan.
“Pendataan tanaman bukan sekadar memberi label pada pohon, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap pohon memiliki nilai kehidupan yang harus dijaga bersama,” ungkap salah satu relawan dalam kegiatan tersebut.
Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Cepi Gantina, mengaku bangga melihat keterlibatan aktif Fani, Henti, dan Sefti dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Menurutnya, kehadiran generasi muda menjadi energi baru bagi keberlanjutan gerakan penghijauan.
“Saya merasa bangga melihat semangat ketiga remaja perempuan ini. Di usia muda mereka sudah mau turun langsung ke lapangan, belajar mengenali tanaman, mendata pohon, dan peduli terhadap alam. Ini menjadi harapan besar bahwa generasi penerus kita masih memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi,” ujar Cepi Gantina.
Ia juga menegaskan bahwa gerakan lingkungan harus mampu melibatkan generasi muda secara nyata, bukan hanya menjadi penonton.
“Kalau hari ini mereka belajar mencintai pohon dan alam, maka di masa depan mereka akan tumbuh menjadi generasi yang menjaga kehidupan. Inilah yang terus kami bangun di Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, yakni menanam pohon sekaligus menanam kesadaran,” tambahnya.
Melalui kegiatan labelisasi ini, generasi muda belajar mengenali jenis tanaman, memahami fungsi ekologisnya, hingga menyadari pentingnya menjaga keseimbangan alam. Sebab menjaga bumi tidak cukup hanya menanam, tetapi juga memastikan pohon tetap hidup, tumbuh, dan menjadi warisan hijau bagi generasi berikutnya.
Di saat sebagian generasi muda mulai jauh dari alam, aksi Fani, Henti, dan Sefti justru menghadirkan harapan baru. Mereka membuktikan bahwa perempuan muda juga mampu menjadi garda depan pelestarian lingkungan.
Hamparan kebun hijau dan latar pegunungan yang berdiri megah menjadi saksi bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan kepedulian sederhana.
Dari satu label, lahir pengetahuan. Dari satu pohon, tumbuh harapan. Dan dari generasi muda yang peduli, tercipta masa depan bumi yang lebih lestari.
Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut berharap keterlibatan generasi muda dalam aksi-aksi lingkungan terus tumbuh, sehingga gerakan penghijauan tidak berhenti menjadi kegiatan seremonial, melainkan berubah menjadi budaya hidup yang diwariskan lintas generasi.
