May Day Tanpa Hiruk Pikuk: SPBUN Cisaruni Tebar Manfaat Lewat Donor Darah


Garut || Di saat sebagian peringatan Hari Buruh Internasional identik dengan aksi turun ke jalan dan tuntutan lantang, buruh di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, justru memilih jalan berbeda. Tanpa orasi, tanpa spanduk protes, mereka menghadirkan makna perjuangan yang lebih sunyi, namun menyentuh langsung kehidupan: donor darah.
Peringatan May Day yang digelar oleh Serikat Pekerja Perkebunan (SPBUN) PTPN 1 Regional 2 Kebun Cisaruni pada Jumat (1/5/2026) berlangsung di Kantor Induk Kebun Cisaruni, Giriawas. Kegiatan ini menggandeng PMI Garut dan PMI Cikajang sebagai mitra pelaksana.
Sejak pagi, lokasi kegiatan dipenuhi peserta. Tidak hanya pekerja perkebunan, tetapi juga warga sekitar, unsur organisasi masyarakat, hingga tokoh daerah turut ambil bagian. Hadir pula Kepala Desa Giriawas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta Ketua Umum Forum Peduli Cikajang.
Tidak ada teriakan massa. Tidak ada barisan panjang demonstran. Yang ada justru antrean warga yang rela menyumbangkan darah, sebuah bentuk solidaritas yang jauh dari simbolik.
Meski antusiasme tinggi, tidak semua peserta dapat mendonorkan darah. Ketua PMI Cikajang, Oded Sutarna, mengungkapkan bahwa dari 57 orang yang mendaftar, hanya 26 orang yang dinyatakan memenuhi syarat.
“Peserta yang hadir sebenarnya cukup banyak. Namun karena pada hari Selasa sebelumnya sudah dilaksanakan donor darah di wilayah Desa Girijaya, maka jumlah peserta yang lolos hari ini menjadi lebih sedikit,” jelasnya.
Momentum ini seakan menjadi kritik halus sekaligus refleksi: bahwa perjuangan buruh tidak melulu harus berwajah konfrontatif.
Ketua SPBUN Korwil Garut, Hedi Darnida, menegaskan bahwa May Day seharusnya dimaknai lebih luas, tidak hanya sebatas isu kesejahteraan.
“Hari Buruh bukan hanya tentang tuntutan hak, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan. Kami ingin menunjukkan bahwa buruh tidak hanya bekerja, tetapi juga hadir memberi manfaat. Donor darah ini adalah wujud nyata kepedulian kami terhadap kehidupan,” ujarnya.
Senada, Ketua Umum Forum Peduli Cikajang, Dayat Hidayat, menilai langkah ini sebagai bentuk pergeseran paradigma gerakan buruh ke arah yang lebih konstruktif.
“Ini bukan sekadar seremonial. Ini aksi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya. Ketika buruh bergerak untuk kemanusiaan, itu menjadi kekuatan besar yang menyatukan semua elemen,” ungkapnya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Giriawas, Deni Sunjani, yang melihat kegiatan ini sebagai model kolaborasi sosial yang patut dijaga.
“Kebersamaan dalam aksi kemanusiaan seperti ini menunjukkan bahwa solidaritas masih hidup. Ini kekuatan yang harus terus dirawat,” katanya.
Di tengah dinamika dunia kerja yang kerap diwarnai ketegangan antara tuntutan dan kebijakan, langkah SPBUN Cisaruni menghadirkan perspektif baru: bahwa perjuangan tidak selalu harus keras, tetapi bisa hadir dalam bentuk kepedulian.
Dari Cikajang, pesan itu mengalir sederhana namun kuat, bahwa setetes darah bisa menjadi bentuk perjuangan paling nyata. (Cepi Gantina)

