Menanam Keberanian, Merawat Peradaban

Kerusakan lingkungan hari ini bukanlah peristiwa tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan yang mengabaikan nilai, keberanian, dan tanggung jawab. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan manusia tidak lagi cukup dinilai dari retorika atau kebijakan di atas kertas, melainkan dari keberanian mengambil tindakan nyata untuk memulihkan alam.
Pemikiran Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) tentang lebar wawanén keberanian besar yang tidak mudah goyah oleh tekanan menemukan relevansinya yang paling konkret pada isu lingkungan. Keberanian sejati hari ini bukan sekadar berani berbicara, melainkan berani melindungi alam dari kerusakan, meski berhadapan dengan kepentingan besar dan kenyamanan jangka pendek.
Bencana ekologis yang terus berulang, mulai dari longsor, banjir, hingga krisis air bersih, bukan semata-mata persoalan alam. Ia adalah cermin kegagalan manusia dalam menjaga keseimbangan. Alam tidak pernah marah; ia hanya bereaksi atas perlakuan manusia yang melampaui batas.
Dalam konteks ini, penghijauan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan moral. Menanam pohon adalah pengakuan bahwa manusia pernah keliru, dan merawatnya adalah janji untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Namun, sejarah menunjukkan bahwa banyak kegiatan penanaman berhenti sebagai simbol, bukan komitmen. Pohon ditanam, tetapi ditinggalkan. Hijau di foto, gersang di kenyataan.
Karena itu, keberanian yang dimaksud KDM harus diterjemahkan lebih jauh keberanian untuk konsisten. Keberanian untuk merawat, menjaga, dan mengawasi. Keberanian untuk berkata cukup pada eksploitasi yang merusak.
Di sinilah makna Kolaborasi Hijau menjadi penting. Gerakan ini menolak logika kerja sendiri dan simbolisme kosong. Kolaborasi Hijau menempatkan penghijauan sebagai kerja bersama, lintas sektor, dan lintas kepentingan. Ia bukan sekadar gerakan lingkungan, tetapi gerakan pemulihan nilai-nilai empati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa bumi adalah warisan, bukan milik.
Filosofi Sunda melalui ajaran Pancaniti mengajarkan bahwa keseimbangan adalah hukum kehidupan. Ketika manusia melampaui batas, keseimbangan runtuh, dan bencana menjadi penanda bahwa ada yang harus diperbaiki. Nilai ini seharusnya menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.
Krisis lingkungan juga sejalan dengan krisis pendidikan nilai. Pendidikan yang hanya mengejar capaian teknis tanpa membangun empati akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kering rasa. Padahal, empati terhadap alam adalah fondasi peradaban yang berkelanjutan.
Menanam pohon, dalam perspektif ini, adalah tindakan spiritual dan politis sekaligus. Spiritual, karena ia mengajarkan kerendahan hati manusia di hadapan alam. Politis, karena ia adalah pernyataan sikap terhadap masa depan, apakah kita memilih keberlanjutan atau kehancuran yang ditunda.
Tajuk ini hendak menegaskan satu hal masa depan tidak diselamatkan oleh pidato, tetapi oleh tindakan yang konsisten. Menanam hari ini adalah keberanian. Merawat esok hari adalah tanggung jawab. Dan berkolaborasi adalah kesadaran bahwa bumi tidak bisa diselamatkan oleh satu tangan saja.
Jika keberanian manusia mampu tumbuh seiring pohon-pohon yang ditanam, maka harapan masih punya tempat untuk hidup.
Dikaki Gunung Cikuray
Oleh: Cepi Gantina

