Sejarah Berdirinya Yayasan PERKESA

PORTALBELANEGARA.COM, Garut – 
Awal Mula Pendirian Perkesa Suatu organisasi tidak akan terbentuk tanpa adanya pilar-pilar atau tokoh pendiri dari organisasi tersebut. Organisasi tersebut akan terbentuk ketika beberapa orang yang memiliki maksud dan tujuan sama berkumpul dan bekerja sama untuk berjalan dalam wadah yang sama demi mencapai cita-cita yang telah sama tersebut.

Begitu pula dengan organisasi yang bernama Yayasan Perkesa yang telah didirikan sejak lama. 36 tahun berdiri, bukanlah waktu yang sebentar bagi Yayasan Perkesa. Bermula sejak tanggal 22 November 1977 ketika beberapa anggota keluarga keturunan bapak H. Adra’i yang berada di Garut, Bandung dan Bogor sepakat untuk berkumpul di Cikajang menandatangani kesepakatan pendirian ikatan keluarga didasari Ukhuwah Islamiyah, rasa saling tolong menolong sesama satu keturunan dengan nama Perkesa.

Pemberian nama Perkesa diusulkan oleh Iya Yahya bin Mas Amintapura, yang kemudian dimusyawarahkan bersama keluarga. Perkesa merupakan kependekan dari Perkumpulan Keluarga Silih menumbuhkan rasa kasih sayang diantara anggota keluarga serta saling tolong
menolong dengan semangat ukhuwah Islamiyah.

Kesepakatan ini diawali ketika setiap kali silaturahmi Idul Fitri dilakukan Asih dengan maksud agar perkumpulan ini antar anggota keluarga besar H. Adra’i di Cikajang, mereka hanya berbagi cerita seputar kehidupan serta aktivitas keluarga masing-masing saja. Kemudian muncullah gagasan untuk mengikat tali silaturahmi keluarga dalam sebuah wadah organisasi nyata yang memiliki peran tidak hanya bagi anggota keluarga lainnya, tetapi bagi masyarakat sekitar Cikajang (ini dikarenakan Cikajang adalah tempat berkumpulnya keluarga besar keturunan H. Adra’i).

Tujuan awal pendirian Perkesa ini ialah untuk menghimpun dana sosial diantara anggota keluarga besar H. Adra’i. Dana ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan jika yang terkena musibah atau membantu acara hajat nikahan atau sunatan salah satu anggota keluarga keturunan H. Adra’i.

Berbicara sejarah pendirian Yayasan Perkesa, maka tidak lepas dari proses pendirian dan perkembangan Perkesa sebagai sebuah perkumpulan keluarga besar keturunan H. Adra’i. Ada 3 (tiga) nama yang tidak bisa dilepaskan dalam proses pendirian dan perkembangan Perkesa, yaitu Isman Suwarman, Iya Yahya dan Ubes Toha. Beliau-beliau adalah pencetus ide dan pengolah gagasan bahkan pelaksana teknis penyelenggara kegiatan Perkesa sejak awal berdirinya.

Iya Yahya adalah orang pertama yang memiliki ide untuk mengumpulkan anggota keluarga keturunan H, Adra’i dalam sebuah ikatan organisasi. Beliau memendam ide tersebut cukup lama hingga akhirnya Isman Suwarman diajak bicara mengenai ide tersebut. Gagasan ini kemudian disampaikan oleh berdua kepada Ubes Toha dalam anjang sono silaturahmi Idul Fitri pada tahun 1396 H di Cikajang Garut.

Gagasan tersebut disambut dengan senyum simpul berjawab kata sepakat. Selanjutnya, beliau-beliaulah yang membicarakan kepada keluarga keturunan H. Adra’i tentang ide dan gagasan untuk mendirikan sebuah perkumpulan keluarga. Dekap hangat sambutan itu muncul dari seluruh keluarga keturunan H. Adra’i, yaitu Entar Muchtar, II Mariah (dari Cikajang), Supia Wasita (dari Bandung), Enda Suhanda dan Andi Maskandi (dari Bayongbong) serta Syarifudin (dari Pameungpeuk).

Ide tersebut terus berkembang dan ditanggapi positif diantara anggota keluarga keturunan H. Adra’i lainnya. Maka berdasarkan pertimbangan, usulan juga saran dari seluruh keluarga disusunlah Akta Pendirian Perkumpulan Keluarga Sili Asih (Perkesa) yang ditandatangani oleh 9 (sembilan) orang, yaitu Ubes Toha, lya Yahya, Isman Suwarman, Supia Wasita, Enda Suhanda, Andi Maskandi, li Mariah, Entar Muchtar dan Syarifudin pada hari Selasa, 11 Dzulhijah 1397 H bertepatan dengan tanggal 22 November 1977 dan sebagai Ketua Perkesa ditunjuklah lya Yahya bin Mas Amintapura.

Pendirian Yayasan Perkesa

Beberapa minggu setelah penandatanganan Akta Pendirian serta disusunnya pengurus serta penasehat, maka pada tanggal 11 Desember 1977 dilakukan pertemuan pertama pengurus dan penasehat yang di kediaman lya Yahya yang bertempat di Situ Sari Nomor 218 Garut. Diantara agenda yang dibicarakan dihasilkan beberapa keputusan tentang beberapa hal terkait kesekretariatan, keuangan, keanggotaan, rencana usaha dan sosial yang akan dikembangkan oleh Perkesa.

Sejalan dengan perkembangan Perkesa di lingkungan keluarga serta eksistensinya yang mulai terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat, maka dibutuhkan sebuah landasan hukum yang kuat bagi Perkesa. Setelah 5 (lima) tahun berjalan
dengan pertumbuhan yang baik, maka pada bulan Desember 1982 menghadap ke hadapan Notaris Aam Warlimah, SH pengurus Perkesa untuk mengukuhkan Perkesa sebagai sebuah Yayasan.

Para penghadap yang menandatangani Akta Pendirian Yayasan diantaranya adalah H. Ubes Toha, H. Iya Yahya, Isman Suwarman, Entar Muchtar dan Tjutju Djuhana. Pengukuhan ini ditetapkan dalam Akta Pendirian Yayasan Nomor 44 yang ditandatangani pada tanggal 29 Desember 1982 yang kemudian didaftarkan pula di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Garut dengan Nomor 117/YY/1982 PN Garut.

Sejak itu, maka secara resmi Perkesa menjadi yayasan dengan nama Yayasan Perkesa. Kemudian sebagai ketua ditunjuklah H. Ubes Toha bin Apandi dengan kantor bertempat di kediaman beliau. Salah satu program yang diluncurkan pada masa kepengurusan beliau adalah program penggalangan dana Beasiswa Sekolah Yayasan Perkesa (Dana BSYP) pada tahun 1984 Program in ditujukan untuk memberi beasiswa bagi anggota keluarga yang berprestasi numun membutuhkan biaya sekolah.

Setelah yayasan memiliki akta notaris, maka setiap pengurus berupaya semaksimal mungkin untuk melancarkan beberapa program yayasan yang sudah menjadi program kerjanya. Maka dengan melihat kebutuhan masyarakat di sekitar Desa Mekarsari dengan berbagai pertimbangan, yayasan melalui pengurusnya berusaha meningkatkan eksistensinya di tengah masyarakat dengan cara ikut berpartisipasi dalam program pemerintah melalui bidang pendidikan karena bidang ini yang lebih tepat dan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh pengurus dan keluarga besar yayasan.

Upaya para Pengurus dalam mengembangkan yayasan Perkesa

Setelah Yayasan Perkesa berdiri sekitar 5 tahun maka mulai tahun 1982 sejak dibuatnya akta notaris, pada saat itu juga diselenggarakan program yayasan bidang pendidikan dengan dibukanya lembaga pendidikan keagamaan yang disebut dengan madrasah Diniyah setingkat SD, dan pada saat ini madrasah tersebut dinamai Diniyah Takmiliyah disesuaikan dengan perkembangan pendidikan keagamaan yang menginduk kepada Departemen agama.

Dengan adanya bantuan dari instansi pemerintah, pengurus Yayasan dan swadaya masyarakat maka dibangunlah Madrasah Diniyah pertama kali, dengan tujuan memfasilitasi keluarga yayasan dan warga sekitar khususnya untuk meningkatkan pemahaman keagamaan melalui lembaga pendidikan yang diselenggarakan.

Didirikannya Madrasah ini mendapat respon positif khususnya dari keluarga Yayasan serta masyarakat sekitar pada umumnya terbukti dengan banyaknya santri yang belajar di madrasah ini, walaupun waktu belajar dilaksanakan pada siang dan sore hari mengingat pada pagi harinya mereka belajar di Sekolah Dasar yang menginduk kepada Dinas Pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran ini dibimbing oleh keluarga yayasan yang berkompetensi di bidangnya seperti Bapak H Cucu Djuhana, H Afif Hanafiah, Ida Laela, Idah Hamidah dan pada saat ini santri yang belajar di lembaga ini kurang lebih berjumlah 200 orang santri.

Selain diselenggaraknnya Madrasah Diniyah, maka pada tahun 1997 yayasan kembali berupaya membuka lembaga pendidikan RA (Raudhatul athfal setingkat TK/PAUD (pendidikan anak usia dini). Hal ini mengingat banyaknya permintaan dari warga sekitar akan kebutuhan pendidikan Usia dini. Pelaksanaan kegiatannya di pagi hari dengan memanfaatkan ruangan Diniyah yang kosong karena santri Diniyah belajar di siang hari.

Sedangkan RA ini dibina dan dikelola oleh keluarga yayasan itu sendiri yaitu ibu Ida Laela, ibu Ifah syarifah dan para guru dari keluarga yayasan dan di luar yayasan yang berkompeten di bidangnya.

Raudhatul athfal ini terdiri dari dua kelompok belajar yaitu kelompok A berusia 4-5 tahun dan kelompok B berusia 5-6 tahun. Setelah RA berjalan selama 6 tahun maka pengurus yayasan kembali berupaya menambah lembaga pendidikan baru sebagai kelanjutan dari jenjang RA yaitu dibukanya lembaga pendidikan SD (Sekolah Dasar) yang pada awal didirikan hanya terdiri dari 16 orang siswa. Seiring berjalannya waktu siswa yang belajar di SD Miftahul Falah sudah mencapai 400 siswa untuk tahun ajaran 2018-2019.

Setelah SD berjalan sekitar 10 tahun upaya lain yang dilaksanakan pengurus Yayasan adalah dengan dibukanya lembaga pendidikan SMP, yang merupakan kelanjutan dari jenjang Sekolah Dasar. Yang didirikan pada tahun 2013 dengan mengambil siswa yang berasal dari Sekolah dasar. Semua lembaga pendidikan ini dinamakan Miftahul Falah berdasarkan kesepakatan yang diambil oleh pengurus dan sesepuh yayasan dengan alasan nama ini sangat tepat digunakan bagi sebuah lembaga pendidikan yang artinya kunci kesuksesan atau kunci kebahagiaan.

Peranan dan Perkembangan Yayasan Perkesa dari Tahun 1982-2018

1. Pendirian MD Miftahul Falah

Sejak dikukuhkan secara hukum melalui Akta Notaris Nomor 44 melalui notaris Aam Warlimah, SH tahun 1982, para pendiri Yayasan semakin bersemangat untuk berjihad dalam bidang sosial dan pendidikan. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan ialah dengan menyediakan pendidikan agama (mengaji)
sepulang sekolah bagi anak-anak di sekitar Kampung Sirnasari Desa Mekarsari. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan cara membaca al-Quran, tetapi ditambah dengan ilmu-ilmu keagamaan juga pelajaran-pelajaran yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah seperti pelajaran akidah akhlak, fikih serta bahasa arab.

Meski bersifat mandiri dan informal, kegiatan pendidikan ini ternyata banyak diminati oleh masyarakat sekitar Kampung Sirnasari. Barulah pada tanggal 10 November 1986, pengurus Yayasan memutuskan untuk mendirikan lembaga
pendidikan agama secara formal, yaitu Madrasah Diniyah (MD) Miftahul Falah. Dengan fasilitas kelas sebanyak 2 (dua) lokal, kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sepulang SD memiliki peserta didik yang cukup. Terlebih putra putri keturunan H. Adra’i yang berada di sekitar lokasi, sudah pasti mengikuti pendidikan Madrasah tersebut.

Sebagai kepala madrasah maka ditunjuk Tjutju Djuhana yang kebetulan saat itu berprofesi sebagai guru di lingkungan Dinas Pendidikan. Sedangkan para pengajar lebih banyak melibatkan putra putri keturunan H. Adra’i yang sudah menginjak pendidikan di tingkat SMA, seperti Apip Hanafiah, Ida Laela dan Idah Hamidah.

Antusiasme masyarakat sekitar yang cukup tinggi akan adanya madrasah di sekitar lingkungan mereka merangsang pihak Yayasan untuk menambah dan meningkatkan fasilitas pendidikan madrasah. Namun hal ini terkendala dengan kurangnya biaya atau anggaran yang dimiliki Yayasan. Ketika sudah terkumpul donasi dari keluarga besar Yayasan Perkesa barulah dibangun kembali 1 (satu) lokal kelas dan kamar mandi. Inilah cikal bakal pergerakan Yayasan Perkesa dalam bidang pendidikan yang hingga sekarang masih dijalankan dan dikembangkan oleh pengurus Yayasan.

Hingga saat ini Madrasah Diniyah (MD) Miftahul Falah terus berjalan dengan baik dan telah meluluskan banyak angkatan. MD Miftahul Falah pun telah terdaftar di Departemen Agama melalui Surat Keputusan Kepala Depag Kabupaten Garut Nomor Kd.10.5.5/pp.00.8/0287/2009 pada tanggal 21 Juli 2009 dan Nomor Statistik Diniyah 311232050287. Dan saat ini sudah memiliki santri sekitar 250 orang.

2. Pendirian RA Miftahul Falah

Pendidikan bagi anak usia 7-12 tahun tidak hanya sebatas pendidikan formal di sekolah dasar saja tetapi juga perlu ditambah ilmu keagamaan yang disediakan oleh madrasah diniyah. Namun tentu saja, pendidikan di usia dini juga lebih penting. Selain melatih jiwa kemandirian anak, penting pula untuk mengembangkan kemampuan sosial anak bersosialisasi baik dengan orang dewasa maupun dengan anak-anak sebayanya.

Pendidikan usia dini atau Paud sangat penting untuk diberikan karena ini merupakan pondasi dasar peletakan nilai nilai kebaikan terutama sekarang di era milenium pendidikan sudah harus berbasis karakter. Maka karakter yang ditanamkan di usia dini akan berpengaruh terhadap kepribadiannya di masa datang.

Konsekuensi mengadakan kegiatan di bidang pendidikan ialah adanya kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat. Apalagi, di sekitaran Desa Mekarsari belum ada lembaga yang khusus menyediakan pendidikan agama bagi anak-anak usia sekolah dasar. Maka pada tanggal Juli 1999, Yayasan yang semula hanya mengelola pendidikan tingkat Madrasah mengembangkan lagi lembaga dengan membuka Raudhatul Athfal (RA) Miftahul Falah.

Pada awalnya, Yayasan dalam melaksanakan pendidikan raudhatul athfal ini masih bekerja sama dengan lembaga lain, yaitu Pimpinan Daerah Persistri Kabupaten Garut dalam hal pengelolaan. Termasuk di dalamnya pengelolaan mengena kurikulum, guru pengajar, administrasi sekolah dan lain sebagainya.

Hal ini dilakukan karena masih minimnya sumber daya manusia yang dimiliki oleh Yayasan. Bahkan untuk ruang kelas pun, pada saat itu masih berbagi dengan MD Miftahul Falah yang telah dahulu ada. Jika waktu pagi dipakai untuk kegiatan
RA Miftahul Falah maka dari siang hingga sore, barulah MD Miftahul Falah yang menggunakan ruang kelas tersebut.

Setelah beberapa tahun berjalan, barulah RA Miftahul Falah berdiri secara mandiri dan mendapatkan pengukuhan melalui Surat Keputusan Kepala Depag Kabupaten Garut nomor mi_17/pp.00.4/161/2003.

3. Pendirian SDS Miftahul Falah Tahun 2003

Animo masyarakat yang cukup tinggi terhadap Yayasan setelah memiliki MD Miftahul Falah dan RA Miftahul Falah mendorong para pengurus Yayasan untuk melanjutkan perjuangan mencerdaskan anak bangsa ke tingkat lebih tinggi lagi. Hal ini sejalan dengan masukan dan pertimbangan dari keluarga Yayasan untuk
mendirikan lembaga pendidikan tingkat sekolah dasar. Maka di rencanakanlah pendirian SD Miftahul Falah sebagai kelanjutan pendidikan bagi para siswa RA Miftahul Falah.

Pentingnya pendidikan dasar disadari penuh oleh pengurus yayasan terlebih yayasan sudah memiliki RA yang membutuhkan kelanjutan pendidikan yang lebih tinggi berupa Sekolah Dasar. Hal ini menjadi motivasi bagi pengurus yayasan untuk mengembangkan eksistensinya di bidang pendidikan berupa penyelenggaraan lembaga pendidikan dasar setingkat SD. Apalagi didukung oleh ketersediaan peserta didik di sekitar desa Mekarsari yang termasuk wilayah padat penduduk.

Pendidikan dasar sangatlah dibutuhkan bagi setiap anak untuk menanamkan karakter kebaikan sejak usia dini, apalagi bila ditunjang dengan pembiasaan dan keteladanan yang baik berdasarkan agama yang dianutnya. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap pendidikan di jenjang lebih tinggi baik itu menengah pertama maupun menengah atas. Karena karakter baik yang ditanamkan sejak dini akan mudah untuk dikembangkan ketika anak mengikuti pendidikan yang lebih tinggi dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap eksistensinya sebagai warga negara yang baik yang mampu membantu negara ke arah yang berkemajuan.

Setelah melalui pertimbangan yang panjang akan pentingnya lembaga pendidikan dasar ini, melalui rapat pengurus pembina dan pengawas yayasan maka, tepatnya pada tanggal 13 Mei 2003, pengurus Yayasan diwakili oleh Ida Laela, S.Pd.I dan Rukman Sutarman, S.Pd menghadap ke Dinas Pendidikan Kabupaten Garut untuk mengajukan izin operasional bagi SD Miftahul Falah di bawah naungan Yayasan Perkesa.

Proses pendirian yang cukup melelahkan di internal Yayasan harus dijalani oleh para pengurus, mulai dari persiapan sumber daya manusia bagi SD Miftahul Falah kelak, seperti penunjukkan Kepala Sekolah, Wali Kelas serta Pembantu Umum juga persiapan fasilitas sarana prasarana yang sudah harus tersedia bagi angkatan pertama SD Miftahul Falah.

Terlebih proses pengajuan yang mengharuskan perjalanan bolak balik dalam melengkapi persyaratan yang kurang antara Cikajang-Garut cukup memakan waktu tidak sedikit bagi para pengurus. Sehingga akhirnya, dalam waktu 2 (dua) bulan proses pengajuan izin operasional bisa selesai disetujui. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Nomor 425/1517-Dispend tertanggal 16 Juni 2003, Yayasan Perkesa resmi boleh menyelenggarakan pendidikan di tingkat satuan dasar dengan nama lembaga Sekolah Dasar Swasta (SDS) Miftahul Falah.

Pada awal berdirinya siswa yang terdaftar di SD Miftahul falah hanya sekitar 16 orang. Seiring berjalannya waktu serta minat masyarakat yang tinggi untuk memasukan anak-anaknya ke lembaga ini, maka tiap tahun jumlah peserta didik semakin meningkat. Dan setelah 15 tahun berjalan hingga tahun 2018, SDS Miftahul Falah telah meluluskan sebanyak 10 (sepuluh) angkatan dengan kelulusan 100 % setiap tahunnya.

4. Pendirian SMPS Miftahul Falah tahun 2013

Waktu selama 27 (dua puluh tujuh) tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam menggerakkan roda organisasi, terlebih Yayasan Perkesa memiliki lembaga pendidikan lebih dari 1 (satu) unit. Sejak pertama kali mendirikan MD Miftahul Falah tahun 1986 hingga menjalankan 3 (tiga) unit lembaga pendidikan tahun 2013 (MD, RA dan SDS Miftahul Falah). Selama 27 tahun bergerak di bidang pendidikan, Yayasan Perkesa telah memiliki alumni ratusan berasal dari ketiga lembaga pendidikan tersebut. Karenanya dengan perkembangan yang signifikan ini tentunya banyak pengaruh positif yang dirasakan oleh masyarakat sekitar khususnya warga Desa Mekarsari akan keberadaan sekolah sekolah dibawah naungan yayasan ini.

Pengaruh Keberadaan Yayasan Perkesa dari Tahun 2003-2018

Pandangan manusia dalam melihat sesuatu tentu saja akan berbeda-beda. Perbedaan tersebut muncul dari ketidaktahuan, ketidaksukaan atau bahkan kefanatikan terhadap sesuatu. Begitu pula dengan pandangan masyarakat Desa Mekarsari terhadap Yayasan Perkesa pada awal berdirinya.

Dalam suatu organisasi kemasyarakatan, ada tiga hal yang saling terkait antara satu sama lainnya, yaitu individu, masyarakat dan organisasi itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, individu, masyarakat dan organisasi merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga unsur tersebut berpadu satu sama lainnya membentuk suatu bangunan kehidupan sosial dalam masyarakat. (Athorida, 2010; 6)

Kemajuan sebuah organisasi seperti yayasan tidak akan terlepas dan kerjasama semua unsur di dalamnya. Banyak faktor yang berpengaruh penting dalam kemajuan sebuah organisasi termasuk yayasan diantaranya, pengurus yayasan sangat berperan penting dalam mengembangkan yayasan. Bagaimana peranan pengurus yayasan dan semua pihak yang terkait dalam unit pendidikannya bisa mempromosikan keberadaan yayasan serta memberi kemanfaatan kepada masyarakat sekitar terutama dalam meningkatkan pengetahuan anggota masyarakat melalui
lembaga pendidikan yang menaunginya. ****

Kusnadi, S.Pd

Kusnadi, S.Pd

Berusaha untuk memberikan informasi dengan mengutamakan kecepatan dan kedalaman suatu berita secara berimbang, sehingga dapat memberikan pencerahan yang cerdas kepada para pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *